Cara Menghitung Laju Inflasi Perekonomian


Rumus Inflasi – Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi dua kata ini pasti sudah tidak asing lagi bagi para kalangan akademisi yang fokus pada jurusan ekonomi. Begitu familiarnya dua kata tersebut, hingga banyak orang menganggap sama  dan hampir tidak dapat lagi diantara keduanya. Bagi mahasiswa semester awal di jurusan Ekonomi mungkin masih dapat dimaklumi jika tidak mengerti perbedaan antara IHK dan Inflasi, tapi bagi mahasiswa tingkat akhir tentu hal tersebut sangat memalukan apabila masih tidak bisa membedakan dua kata tersebut.



Kata ‘inflasi’ pasti akan selalu ada pembahasannya dalam setiap buku makroekonomi  entah karangan siapapun itu, bahkan juga di berbagai media “Pada tahun ini inflasi telah diprediksikan berada pada level 6% atau jika anda juga sering membaca di koran “Hari Raya mengakibatkan inflasi naik menjadi sebesar 2.04%”. Namun sadarkah anda, kalau kita sangat jarang dan bahkan sama sekali tidak pernah mendengar di media kata “indeks harga konsumen”  Masa iya? Apakah IHK sama Inflasi itu berbeda?

Baca juga: Cara Menghitung Pendapatan Per Kapita

Pada berbagai textbook inflasi dapat diartikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga yang secara umum  atau terus-menerus (kontinu). Dengan demikian kalimat “meningkatnya harga-harga yang secara umum”  inilah yang mengakibatkan banyak  metode yang dibuat untuk dapat menghitung inflasi ini. Terdapat  inflasi yang di hitung atas indeks harga konsumen (IHK), terdapat juga yang berdasarkan atas Indeks Biaya Hidup, Indeks Harga Produsen dan sebagainya.

Berdasarkan dari tingkat keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :

  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai dengan 30% / tahun)
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai dengan 100% / tahun)
  4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

Penyebab Terjadinya Inflasi

  1. Tarikan permintaan (Demand pull inflation)

Semakin bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa akan menyebabkan bertambahnya permintaan faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap produksi akan membuat harga faktor produksi semakin meningkat. Jadi, inflasi dapat terjadi karena kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi ditimbulkan oleh permintaan total yang sangat berlebihan sehingga akan terjadi perubahan pada tingkat harga atau yang lebih dikenal dengan istilah demand pull inflation.



  1. Desakan biaya (Cost push inflation)

Inflasi ini dapat terjadi karena semakin meningkatnya biaya produksi (input) sehingga akan membuat harga produk-produk (output) yang dihasilkan juga ikut naik.

Lalu kenapa IHK yang lebih sering digunakan untuk menghitung inflasi? Karena IHK  menghitung harga rata-rata dari jasa atau barang yang telah dikonsumsi  oleh rumah tangga (household). Macam-macam barang dan jasa tersebut dibagi menjadi 7 kelompok, antara lain bahan-bahan makanan; makanan siap saji; minuman; tembakau dan rokok; perumahan; sandang; kesehatan; pendidikan, olahraga dan rekreasi; serta transportasi dan komunikasi.  Kelompok-kelompok tersebut sudah cukup mewakili “harga-harga secara umum” dengan begitu IHK yang paling sering digunakan untuk menghitung inflasi.



Leave a Reply

Your email address will not be published.